08
Nov
09

Artikel Pendidikan

KURIKULUM SEKEDAR ALAT,
TUJUAN PENDIDIKAN HARUS JELAS
Oleh: Khalimi

Ada kesan kuat bahwa di dunia pendidikan, kurikulum bukan merupakan komponen yang terpenting untuk mencapai tujuan pendidikan. Masih terdapat komponen yang saling melengkapi, yaitu guru sebagai juru kunci keberhasilan pendidikan, dan prasarana lain seperti buku, gedung sekolah, kursi, bahkan budaya masyarakat setempat. Karena kurikulum bukan yang utama, tak usah terlalu risau dan sibuk BSNP kotak-katik ganti kurikulum. Apalagi mempersoalkan dan mengharuskan dalam kurun waktu tertentu sekolah harus sudah melaksanakan kurikulum tingkat satuan pendidikan(KTSP).
Masih menjadi tanda tanya besar, mampukah sekolah melaksanakan KTPS. Sekolah melihat begitu kompleksnya masalah yang dihadapi, antara lain belum seluruhnya para guru memiliki kesiapan dirinya dengan bekal pengetahuan yang maksimal untuk menyongsong pembaharuan di bidang konsep pengajaran. BSNP sebagai lembaga di bawah Depdiknas yang paling berwenang dalam kebijakan pendidikan (lebih tepatnya pengajaran) di republik tercinta ini, ibarat bunglon. Ia bisa menjadi diri sendiri karena tanpa disadari bisa berubah seperti yang ia mau. Oleh karena itu ia merasa tahu segalanya dan berbuat apa saja. Namun ia menjadi
Kasus UN merupakan bahan renungan bagi BSNP, karena dinilai banyak merugikan peserta didik. Oleh karena itu sebaiknya kembalikan masalah kelulusan peserta didik menjadi wewenang guru di sekolah. UN bagi BSNP hanyalah dijadikan tolok ukur dan pemetaan prestasi masing-masing sekolah pada jenjang satuan pendidikan.
Dalam sejarah dunia pendidikan di Indonesia, dalam kurun waktu dua tahun telah berganti kurikulum. Yang pernah terjadi, kurikulum mengalami revisi (bukan pergantian) setelah dievalusi selama kurun waktu sepuluh tahun. Masih adakah kemungkinan BSNP mengganti dengan kurikulum lain andaikan KTSP tidak berhasil. Sebab Kurikulum yang belum diujicobakan tanpa dievalusi serta merta harus dijalankan, mungkinkah dinyatakan sebagai sesuatu yang valid.

PEKERJA OTOT VS PEKERJA OTAK
Oleh: Khalimi

Menanggapi tulisan tentang masalah pengangguran di negeri ini yang menurut data di Depnaker cukup memprihatinkan. Sebagaimana dimuat di harian ini, bahwa manusia-manusia pengangguran terdidik lulusan universitas/Perguruan Tinggi mendominasi tempat teratas. Hal ini menunjukkan bahwa antara rencana pembangunan di bidang pendidikan tidak sejalan dengan lapangan kerja. Dalam kaitan inilah tugas pemerintah memikirkan agar biaya mahal di dunia pendidikan tidak sia-sia, seyogyanya perencanaan pendidikan didasarkan atas kebutuhan tenaga kerja.
Pada hakikatnya, usaha pendidikan adalah bagaimana para lulusan sekolah dengan bekal pengetahuan dan keterampilan seseorang bisa memasuki dunia lapangan kerja. Dengan menyadari sepenuhnya urgensi dan relevansi suatu model pendidikan yang berorientasi dunia kerja di negeri ini, terutama di tengah persaingan global timbul masalah pengangguran. Dengan kata lain, apakah ilmu untuk mencari nafkah?. Menurut pikiran saya, di sinilah letak muara inti masalah pengangguran.
Peluang dunia kerja dewasa ini cenderung didominasi pekerja-pekerja otot yang mereka anggap kalau tidak kerja tidak bakal mendatangkan uang. Logika mereka benar, karena didasari kenyataan bahwa untuk menopang hidup harus bekerja. Menjadi pemulungpun mereka jalani walaupun hasil dari apa yang didapat hanya sekedar untuk makan.
Di kota besar seperti Jakarta, para pekerja otot mendominasi seluruh pelosok wilayah ibukota. Ini gambaran nyata bahwa peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan sungguh sulit, karena tidak seimbang antara jumlah pencari kerja dengan dunia lapangan kerja tidak seimbang. Sebaliknya pekerja otak mempertimbangkan status, yang pada akhirnya lebih baik menganggur dari pada bekerja yang dinilai oleh mereka tidak pantas dijalani.
Ada kesan kuat para pekerja otak yang nota bene lulusan universitas pun belum cukup bekal untuk mentransfer ilmu menciptakan lapangan kerja sendiri. Padahal mereka dididik untuk bisa mandiri dan berani menghadapi tantangan hidup. Tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan pekerjaan tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Pernah ada seorang insinyur mencari peluang kerja menjadi guru bahasa Inggris di sekolah dasar. Itu salah satu gambaran bahwa sulitnya mencari peluang pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, karena menurut saya belum adanya perencanaan pendidikan yang dilakukan bersama antara perencana kebutuhan tenaga kerja dengan perencana pendidikan.
Ada kesan kuat para pekerja otak cenderung bersaing menduduki pekerjaaan yang berkelas, seperti duduk di belakang meja kantor pemerintahan (menjadi PNS) atau perusahaan dengan jabatan yang bergengsi. Idealnya para pekerja otak menjadi perencana atau pengembang sesuai dengan keahlian bidang ilmunya. Kenyataan menjadi lain, mereka kalah bersaing dengan pencari kerja yang memiliki keahlian berkat pengalaman khusus (skill).


0 Responses to “Artikel Pendidikan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: