21
Mei
10

hitung cepat

hitung cepat
Saya hanya heran mengapa hari ini banyak orang mengunjungi blog saya dengan kata kunci dari search engine: “hitung jari cepat contoh 13 x 17″.
Ada apa dengan perkalian 13×17?
Ada apa dengan hitung jari cepat?
Apakah ada hubungannya dengan sempoa jari, jarimatika, jari aritmatika, matematika jari atau yang sejenisnya?
Baiklah saya ingin sedikit berbagi tentang perkalian cepat hitung jari 13 x 17.
1. Cara paling cepat menyelesaikan 13×17 dengan jari kita adalah gunakan jari untuk memencet tombol yang paling tepat pada kalkulator (atau HP atau komputer). Kita akan segera memperoleh hasilnya. Bagaimana jika tidak tersedia kalkulator? Bagaimana jika tidak diijinkan menggunakan kalkulator?
2. Gunakan jari Anda untuk menggerak-gerakan biji-biji sempoa yang tepat. Dengan latihan yang konsisten – mungkin perlu waktu beberapa minggu – akan dapat menyelesaikan perkalian 13×17. Bagaimana jika tidak diijinkan memakai sempoa? Bagaimana jika saya tidak sabar belajar sempoa yang perlu waktu cukup lama?
3. Gunakan rumus-rumus sempoa jari, jari aritmatika, jarimatika, atau yang sejenisnya. Biasanya, untuk perkalian kita akan mengenal beberapa rumus khusus misal perkalian 6 sampai dengan 10, lalu perkalian 11 sampai dengan 15, lalu perkalian 16 sampai dengan 20. Untuk menguasainya mungkin Anda perlu waktu beberapa minggu – mohon bersabar. Itu pun Anda belum menjawab 13×17. Karena 13 masuk kelompok 11 sampai dengan 15 sedangkan 17 masuk kelompok 16 sampai dengan 20. Jangan khawatir, dengan belajar tekun Anda akan berhasil menguasainya.
Bagaimana jika saya tidak sabar untuk belajar begitu lama? Namanya belajar memang harus sabar sampai tercapainya tujuan, bukankah begitu?
4. Mengapa repot-repot sih? Gunakan saja jari-jari kita untuk memegang pensil. Lalu hitung dengan algoritma AlKhawaritzmi bersusun seperti biasa:
13
17
—x
Pasti akan kita peroleh hasilnya kan?
Bagaimana bila saya tidak mau dengan cara yang biasa?
Saya ingin cara yang baru.
5. Bahkan Anda tidak perlu menggunakan jari. Cukup gunakan imajinasi Anda. 13×17 = …
1×2 = 2
3×7 = 21
Jawab: 221 (Selesai!?)
Contoh lain:
23×27 = …
2×3 = 6
3×7 = 21
Jawab: 621
33×37 = …
3×4 = 12
3×7 = 21
Jawab: 1221
43×47 = …
53×57 = ….
6. Dan lain-lain.
Tentu masih banyak cara untuk menyelesaikan perkalian 13×17.
Berpetualanglah…nikmati asyiknya berpetualang dengan matematika. Semangat petualangan matematika inilah yang terus kami kembangkan di APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif.
Bagaimana menurut Anda?

21
Mei
10

menebak tanggal lahir

Menebak tanggal lahir
Permainan II
Layar kalkulator akan menampilkan tanggal lahir anda, serta usia anda sekarang
1. Masukkan tanggal kelahiran anda pada kalkulator. Dahului bulan kelahiran, diikuti tanggal lahir (untuk angka bulan 1 sampai dengan 9 diketik dengan angka 0 di depannya, misalnya 01 = Januari), kemudian dua digit terakhir dari angka tahun.
2. Kalikan angka itu dengan 2
3. Hasilnya jumlahkan dengan 5
4. Kalikan hasilnya dengan 50
5. Tambahkan dengan 1758 kalau anda belum berulang tahun, atau 1759 jika anda sudah melewati hari ulang tahun anda tahun ini.
6. Kurangkan hasilnya dengan keempat digit angka tahun kelahiran.
Hasilnya adalah satu atau dua digit pertama adalah bulan kelahiran, dua digit kedua adalah tanggal lahir, dua digit ketiga adalah tahun kelahiran, dan dua digit terakhir adalah usia anda sekarang.

Permainan III
Menemukan hari kelahiran anda
Langkah-langkah:
1. Tentukan tanggal kelahiran yang dicarik harinya, misalkan 16 September 2009.
2. Tentukan jumlah hari dalam tahun itu, sejak awal tahun hingga hari lahir. Untuk tahun kelahiran kabisat, atau tahun yang habis dibagi dengan 4 dan seterusnya, maka jumlah hari di bulan Pebruari adalah 29 hari (tahun-tahun kabisat adalah dari sebelumnya … 1968, 1972, 1976, 1980, 1984, 1988, 1992, 1996, 2000, 2004, 2008, 2012, dst)

Tabel 1
Januari=31, Pebruari=28 atau 29, Maret=31, April=30, Mei=31, Juni=30, Juli=31, Agustus=31, September=30, Oktober=31, Nopember=30, Desember=31
Maka jumlah hari adalah 31 (Januari) + 28 (Pebruari) + 31 (Maret) + 30 (April) + 31 (Mei) + 30 (Juni) + 31 (Juli) + 31 (Agustus) + 16 (September) = 259

3. Angka tahun dikurangi dengan 1 = 2009-1 = 2008
4. Hasilnya dibagi dengan 4 dan abaikan angka desimalnya = 2008 : 4 = 502
5. Jumlahkan angka tahun dengan jumlah hari dan hasil perhitungan no.4 = 2009 + 259 + 502 = 2770
6. Hasilnya dibagi dengan 7 = 2770 : 7 = 395,7
7. Perhatikan angka desimalnya, dan cocokkan dengan tabel 2 di bawah. Angka desimalnya 7 = hari Rabu

Tabel 2
0 = Jumat, 1 = Sabtu, 2 = Minggu, 3 = Senin, 4 = Selasa, 5 = Rabu, 6 = Kamis, 7 = Rabu, 8 = Kamis

Permainan IV
Layar kalkulator akan menampilkan nomor telepon 7 digit anda
1. Masukkan tiga digit pertama dari nomor telepon anda di kalkulator (tidak termasuk 0 di depannya)
2. Hasilnya kalikan dengan 80
3. Tambahkan hasilnya dengan 1
4. Kalikan 250
5. Hasilnya tambah dengan empat digit terakhir nomor telepon itu
6. Tambahkan sekali lagi dengan empat digit terakhir itu
7. Hasilnya kurangi 250
8. Bagi hasilnya dengan 2

Permainan V
Layar kalkulator akan menampilkan nomor telepon 12 digit anda
1. Masukkan tujuh digit pertama nomor telepon anda (tidak termasuk 0 di depannya)
2. Kurangkan dengan angka dua digit terakhir dari tujuh angka no.1
3. Hasilnya kalikan 80
4. Tambahkan dengan 1
5. Kalikan hasilnya dengan 250
6. Tambahkan hasilnya dengan enam digit terakhir dari nomor telepon anda
7. Sekali lagi tambahkan dengan angka yang sama
8. Hasilnya kurangi dengan 250
9. Bagi hasilnya dengan 2

03
Apr
10

KARYA ILMIAH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kepala sekolah adalah jabatan yang diberikan kepada seseorang sebagai pimpinan di sekolah .Di sekolah dasar negeri jabatan kepala sekolah ditentukan oleh instansi diatasnya (Kepala Dinas Pendidikan Dasar) berdasarkan kriteria tertentu, persyaratan jabatan dan kebutuhan di lapangan. Peran kepala sekolah sebagai pimpinan formal setempat mempunyai andil yang sangat besar terutama dalam penerapan fungsinya baik sebagai Edukator, Manajer, Administrator, maupun Supervisor (EMAS).
Kepala sekolah harus memiliki kemampuan manajerial POAC (Planing, Organizing, Actuiting, Controling) untuk menggerakkan organisasi sekolah. Di antara kemampuan manajerial menyusun perencanan program sekolah, mengorganisir program kegiatan, melaksanakan program dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan program sekolah. Kemampuan manajerial POAC dikaitkan dengan peran kepala sekolah sebagai pimpinan formal terutama dalam penerapan fungsinya baik sebagai Edukator, Manajer, Administrator, maupun Supervisor (EMAS).
Pengaruh POAC dikaitkan dengan tugas personil yakni membina dan mengarahkan guru dalam meningkatkan prestasi di sekolah dengan cara digerakkan dan dikondisikan agar mereka produktif. Kemampuan manajerial dapat dijadikan tolok ukur peran kepala sekolah dalam meningkatkan produktivitas guru. Tugas guru secara teknis memiliki kemampuan mengorganisir kegiatan belajar mengajar, membuat perencaan, melaksanaan, dan mengevalusi program sekolah kearah yang lebih baik dan produktif.
Kepala sekolah mampu memotivasi guru selaku mitra kerja dan menjalin hubungan dengan atasan, serta membina hubungan baik dengan masyarakat lingkungan termasuk orang tua siswa sehingga terciptanya suasana dan kondisi iklim kerja yang kondusif. Pengaruh iklim kerja yang kondusif mampu meningkatkan produktivitas guru dan siswa di sekolah.
Dengan demikian indikator produktivitas guru adalah sikap guru dalam memahami, dan melaksanakan peran sebagai EMAS. Implikasi dari peran EMAS adalah mampu melaksanakan tugas sebagai pendidik dan pengajar, membuat perencaan, melaksanakan dan mengevalusi program pembelajaran, mengorganisir kegiatan kelas, dan membina siswa untuk berprestasi. Aplikasinya adalah tumbuh kesadaran akan kedisiplinan kerja, menyiapkan perangkat pembelajaran, melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang terencana dan terprogram, melaksanakan program tindak lanjut untuk meningkatkan produktivitas siswa, serta melaporkan hasil pekerjaan kepada kepala sekolah.
Produktivitas guru di sekolah merupakan cerminan dari apa (what) kepala sekolah telah memenuhi kriteria sebagai pemimpin, (who) siapa guru yang berdedikasi dalam menjalankan tugas, dan kapan (when) dilakukan pembinaan kepada guru, serta (where) kegiatan dilakukan secara kontinue. Dengan kata lain produktivitas guru merupakan bagian dari aspek sikap mental berupa dedikasi kerja yang harus dimiliki dan dijadikan bagian dari sikap pribadi guru dalam menjalankan tugas-tugas keseharian di sekolah.
Hubungan antara kepala sekolah-guru-siswa merupakan hubungan yang bersifat vertikal dan horisontal. Hubungan vertikal artinya kepala sekolah membina guru dan siswa agar lebih produktif. Sedangan hubungan horisontal artinya guru sebagai mitra kerja, dan siswa sebagai subyek sekaligus obyek tolok ukur keberhasilan tugas kepala sekolah dan guru. Dengan demikian peran kepala sekolah membina guru dan siswa untuk lebih produktif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tolok ukur keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh produktivitas guru selaku perencana dan pelaksana program pembelajaran. Produktivitas guru mampu meningkatkan produktivitas siswa.
Berdasarkan pengamatan penulis bahwa keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola dan menyelenggarakan pembelajaran baik dari masukan, proses luaran/hasilnya (produktivitas), peran kepala sekolah sebagai pimpinan formal setempat mempunyai andil yang sangat besar. Pada gilirannya akan berpengaruh terhadap sistem sekolah terutama kepada dewan guru dan peserta didik (siswa). Jadi kualitas dan kemampuan dalam memimpin yang bersumber diri dari pribadi (tipe yang dimilikinya) akan menjadi tolok ukur keberhasilan dan tingkat produktivitas pada sekolah yang dipimpinnya. Atas dasar pengamatan penulis sebagai salah seorang kepala sekolah dasar negeri di Jakarta Timur, inilah yang melatarbelakangi untuk menyusun karya ilmiah dengan judul “ Hubungan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dengan Produktivitas Guru Sekolah Dasar Negeri Cipinang Besar Selatan Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur “.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, identifikasi masalahnya yaitu :
1. Bagaimanakah hubungan kepemimpinan kepala sekolah dengan tingkat produktivitas guru ?.
2. Apakah hakikat produktivitas ?.
3. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas guru ?

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah maka untuk memudahkan penulisan karya ilmiah ini, permasalahan dibatasi pada ; Adakah hubungan kepemimpian kepala sekolah dengan produktivitas guru Sekolah Dasar Negeri Cipinang Besar Selatan Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur “.
Dalam penulisan karya ilmiah ini yang dimaksud kepemimpinan adalah subyek penting bagi manajer karena peran yang dimainkan untuk efektifitas kelompok dan organisasi. Bentuk-bentuk kepemimpinan yang dibahas tertuju pada kepemimpinan demokratis dan otokratis.
Kepala Sekolah adalah sosok individu kepala sekolah pada sekolah dasar negeri. Tanggung jawab kepala sekolah sebagai manajer yang melaksanakan manajerial POAC, dikaitkan dengan fungsi dan peran EMAS-nya. Sedangkan produktivitas yang dimaksud adalah perbandingan antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber kerja yang dipergunakan sebagai input.
Produktifitas guru adalah ukuran efektifitas guru atau kualitas yang berupa prestasi guru dalam mengelola KBM, dan prestasi siswa sebagai target utama. Pengaruh kepala sekolah terhadap pekerjaan guru bagaimana langkah-langkah yang dilakukan oleh pimpinan (kepala sekolah) agar para guru mampu secara otpimal dan mencapai target serta hasil yang maksimal.

D. Perumusan Masalah
Dari identifikasi dan pembatasan masalah yang dikemukakan, maka perumusan masalah yang diajukan adalah “ Apakah terdapat hubungan kepemimpinan kepala sekolah dengan produktivitas guru Sekolah Dasar Negeri Cipinang Besar Selatan Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur ? “.

C. Tujan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap produktivitas guru sekolah dasar.
2. Manfaat Penelitian
a. Menjadi bahan masukan bagi kepala sekolah yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan umumnya di sekolah dasar .
b. Menjadi bahan masukan bagi kepala sekolah maupun guru dalam meningkatkan produktivitas di Sekolah Dasar Negeri Cipinang Besar Selatan Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur.

03
Apr
10

PENELITIAN TINDAKAN KELAS 4

PENDEKATAN BELAJAR TUNTAS UNTUK MENGATASI KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA TENTANG BILANGAN BULAT PADA SISWA KELAS IV SDN CIPINANG BESAR SELATAN 01 PAGI

I. PENDAHULUAN

Matematikan merupakan bidanga studi yang dipelajari oleh semua siswa dari SD hingga SLTA dan bahkan juga di Perguruan Tinggi. Ada banyak alas an tentang perlunya siswa belajar matematika. Cornelius (1982:38) mengemukakan lima alas an perlunya belajar matematika… merupakan : (1) sarana berpikir yang jelas dan logis (2) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) sarana untuk mengembangkan kreatifitas, dan (5) Sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.
Cockroft (1982:1-5) mengemukakan bahwa matematika perlu diajarkan kepada siswa karena (1) selalu digunakan dalam segala segi kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat dan jelas; (4) dapat digunakan untuk menyajikan info dalam berbagai cara; (5) meingkatkan kemampuan berfikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan; dan (6) memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.
Banyak orang yang memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Meskipun demikian, semua orang harus mempelajarinya karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Seperti halnya bahasa, membaca dan menulis, kesulitan belajar matematika harus diatasi sedini mungkin. Kalau tidak, siswa akan menghadapi banyak masalah karena hampir semua bidang studi memerlukan matematika yang sesuai.
Dalam dunia pendidikan matematika di Indonesia dikenal adanya matematika modern. Matematika modern lebih menekankan pada pemahaman struktur dasar system bilangan daripada mempelajari keterampilan dan fakta-fakta hafalan. Pelajaran matematika modern lebih menekankan pada mengapa dan bagaimana matematika melalui penemuan dan Eksplorasi. Pengajaran semacam itu agakanya telah mengabaikan beberapa aspek dari psikologi belajar dan kurang menguntungkan bagi anak berkesulitan belajar.
Karena adanya berbagai kesulitan tentang matematika modern maka muncul gagasan untuk kembali ke berhitung. Sesungguhnya persolan bukan terletak pada nama matematika atau berhitung, tetapi terletak pada materi yang harus diajarkan dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran.
Ada beberapa pendekatan dalam pengajaran matematika, masing-masing didasarkan atas teori belajar yang berbeda. Ada 4 pendekatan yang paling berpengaruh dalam pengajaran matematika; (1) urutan belajar yang bersifat perkembangan (development learning sequences), (2) belajar tuntas (matery learning), (3) strategi belajar (learning atrategis), dan (4) pemecahan masalah (problem solving).
Empat pendekatan pembelajaran matematika yang telah dikemukakan memiliki implikasi bagi anak berkesulitan belajar matematika. Empat pendkatan tersebut dapat digunakan secara gabungan untuk membantu anak berkesulitan belajar matematika.

Pendekatan belajar tuntas menekankan pada pelajaran matematika melalui pembelajaran langsung (derect instruction) dan terstrukur. Adapaun lankah-langkah pendekatan belajar tuntas dalam bidang studi matematika adalah sebagai berikut:
1. Menekankan sasaran atau tujuan pembelajaran khusus. Sasaran tersebut harus dapat diukur dan diamati. Sebagai contoh, siswa dapat menuliskan jawaban terhadap 25 soal perkalian 1 sampai 7 dalam waktu 10 menit dengan 90% benar.
2. Menguraikan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan
3. Menentukan langkah-langkah yang sudah dikuasai oleh siswa
4. Mengurutkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan
Program matematika yang didasarkan atas pendekatan belajar tuntas memiliki struktur vertaraf tinggi, diurutkan secara sistematis dan memerlukan pembelajaran yang sangat sangat langsung. Mengingat sifat matematika yang berurutan maka pendekatan belajar tuntas sangat sesuai dengan kurikulum matematika.
Rumusan Masalah
Atas dasar latar belakang di atas, maka kami mencoba mengatasi kesulitan belajar matematika siswa sehingga menetapkan judul :
“Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika Dalam Pokok Bahasan Bilangan Bulat Terhadap Siswa SMP Negeri 7 Watampone Dengan Pendekatan Belajar Tuntas”
Batasan Masalah
Demi membatasi pembahasan yang lebih luas, maka kami membatasi pada pokok bahasan Bilangan Bulat, karena hal inilah penulis rasakan sebagai kesulitasn yang sangat mendasar dan jika hal ini tuntas maka menunjang kelancaran pokok bahsan yang lain pada pelajaran matematika SMP.

03
Apr
10

PENELITIAN TINDAKAN KELAS 3

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan formal bertambah dari tahun ke tahun. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan formal pada setiap jenjang pendidikan, sehingga banyak pihak yang mempertanyakan: “Apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita”? Dari berbagai pengamatan dan analisis, ada banyak faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan yang bermakna, salah satu diantaranya adalah pendekatan yang digunakan di dalam kelas belum mampu menciptakan kondisi optimal bagi berlangsungnya pembelajaran sehinngga motivasi belajar peserta didik sangat rendah. Hal ini disebabkan karena selama ini pendekatan terlalu memusatkan pada input dan kurang memperhatikan proses pendidikan, padahal proses pendidikan sangat menentukan output (hasil) pendidikan.
Proses pendidikan tidak terlepas dari kegiatan belajar mengajar di kelas yang sangat ditentukan oleh kerjasama antara guru dan siswanya. Agar kerjasama ini bisa terjalin dengan baik, guru harus mampu menyajikan materi pelajaran dengan baik sehingga siswa bisa menyerap materi pelajaran dengan baik pula (optimum). Olehnya itu, seorang guru harus punya kreativitas dalam membangkitkan motivasi belajar anak didiknya, artinya seorang guru harus mampu memilih pendekatan, metode, dan media yang tepat dalam penyajian materi pelajaran.
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, memegang peranan penting dalam peningkatan sumber daya menusia (SDM) sebab matematika merupakan sarana berfikir logis, sistematis dan kritis. Hal ini sejalan dengan pernyataan Galileo Galilei (1564-1642) sebagai berikut:
“Alam semesta itu bagaikan sebuah buku raksasa yang hanya bisa dibaca jika orang bisa mengerti bahasanya, akrab dengan lambang dan huruf yang dipakai di dalamnya.
Dan bahasa alam semesta itu tidak lain adalah Matematika” .

Menyadari akan pentingnya peranan matematika, maka peningkatan hasil belajar matematika di setiap jenjang pendidikan perlu mendapat perhatian.Namun pada kenyataannya, sampai saat ini masih banyak guru yang menggunakan pendekatan tradisional sehingga siswa kurang mampu memahami sendiri konsep-konsep matematika yang sedang dipelajari. Hal ini menyebabkan siswa cenderung untuk menghafal konsep-konsep matematika tanpa memahaminya dengan benar.
Dari observasi penulis di berbagai sekolah, kondisi pembelajaran seperti yang digambarkan di atas masih sering terjadi. Dalam proses belajar mengajar, guru masih memonopoli pembelajaran dan siswa kurang aktif yang menyebabkan siswa kurang memahami dengan benar konsep-konsep materi yang diajarkan terlebih pada hal-hal yang sifatnya abstrak, sehingga motivasi belajar matematika siswa masih tergolong rendah.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka salah satu upaya yang dianggap dapat memecahkan masalah rendahnya motivasi belajar matematika siswa adalah dengan menggunakan pendekatan kontekstual atau CTL (Contextual Teaching and Learning) dalam pembelajaran.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam tulisan ini adalah “Apakah motivasi belajar matematika siswa dapat ditingkatkan melalui penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual atau CTL (Contextual Teaching and Learning)”.
C. BATASAN ISTILAH
 Peningkatan motivasi belajar yang kami maksudkan di sini adalah meningkatnya kemauan dan aktifitas siswa belajar bidang studi matematika.
 Pendekatan pembelajaran kontekstual atau CTL (Contekstual Teaching and Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapakannya dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari.
 Matematika yang kami maksudkan disini adalah salah satu pokok bahasan matematika pada SMP yaitu bangun ruang sisi lengkung.

02
Apr
10

PENELITIAN TINDAKAN KELAS 2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 yang mengamanatkan kepada perubahan tentang sistem pendidikan nasional : “Pendidikan nasioanl berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain berupa pengembangan kurikulum, pengadaan buku-buku pelajaran, penataran guru, peningkatan profesi guru melalui keikutsertaan dalam program pendidikan kesetaraan, dan lain sebagainya yang tujuan utamanya adalah membantu para guru dan peserta didik untuk lebih meningkatkan mutu proses KBM dan pembelajaran yang maksimal.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut guru untuk meningkatkan kompetensinya dan menempatkan guru pada sebuah paradigma baru dalam proses pembelajaran. Paradigma pembelajaran baru juga menuntut guru untuk memiliki kemampuan pemahaman akan karakteristik dan isi bahan ajar, menguasai konsepnya, mengenal metodologinya dan memahami konteks bahan yang diajarkan serta kaitannya dengan kebutuhan masyarakat, lingkungan dan dengan ilmu lain.
Pembelajaran yang mengacu kepada kebermaknaan menantang guru untuk mencari alternatif yakni berbagai pendekatan yang diharapkan mampu menjawab kesulitan yang dialami guru. Dari berbagai pendekatan yang ada tujuan utamanya adalah agar pembelajaran itu efektif dan tepat penyampaiannya. Salah satu pendekatan yang kita kenal adalah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual lebih tertuju kepada pemecahan masalah tentang persoalan yang dihadapi atau yang dekat dialami oleh siswa.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning) merupakan pendekatan yang membantu guru dalam penyampaian materi pelajaran dengan mengaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata. Pendekatan ini bertujuan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui landasan filosofi konstruktif CTL dikembangkan menjadi salah satu alternatif strategi belajar yang baru, diharapkan siswa belajar dengan pengalaman bukan saja menghafal.
Ilmu pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangannya lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan dengan cara belajar secara inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
Materi IPA tentang cahaya yang meliputi konsep-konsep cahaya dan hubungan antara cahaya dan penglihatan dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Konsep-konsep materi antara lain cahaya dapat menembus benda bening, dipantulkan dan dibiaskan. Hubungan antara cahaya dan penglihatan meliputi benda-benda dapat dilihat bila mata mendapat cahaya dari benda tersebut, alat-alat optik membantu penglihatan misalnya kacamata dan alat pembesar. Konsep-konsep tersebut tampaknya begitu sulit dipahami siswa, karena terlalu abstrak. Permasalahan ini menjadi tantangan guru untuk menvisualkan dan mengkonkretkan dari seluruh konsep yang dipelajari tentang cahaya tersebut pada siswa kelas V SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi.
Dengan permasalahan yang terjadi, maka guru harus memberikan motivasi-motivasi sehingga membangkitkan dan meningkatkan kembali minat siswa pada mata pelajaran IPA. Dalam hal ini guru harus mencari dan menggunakan pendekatan dalam pembelajaran yang efektif, inovatif, dan menyenangkan sehingga siswa tetap tertarik dalam pembelajaran IPA. Sesuai dengan mata pelajaran IPA yang bersifat alami, maka guru dapat menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning).
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning) merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran dengan konsep pembelajaran disesuaikan dengan kondisi siswa. Dalam pembelajaran ini, siswa mengalami sendiri, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Dengan pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas V SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi pada mata pelajaran IPA.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah pokok dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi dalam mata pelajaran IPA?
2. Apakah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning) dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa kelas V SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi pada mata pelajaran IPA?
Masalah rendahnya minat dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA dapat diminimalisir dengan menggunakan suatu pendekatan yang inovatif dalam pembelajaran. Dalam hal ini dapat menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning). Dengan pendekatan tersebut dapat membangkitkan dan meningkat motivasi, minat, dan sikap siswa dalam mata pelajaran IPA.
Penerapan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching Learning) dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya adalah : Konstruktivisme (Constructivisme), mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Menemukan (Inquiry), guru harus merancang kegiatan pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkannya. Bertanya (Questioning), mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan kegiatan bertanya. Masyarakat Belajar (Learning Community), menciptakan masyarakat belajar dengan pembentukan kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen. Pemodelan (Modeling), guru menghadirkan model sebagai contoh atau media dalam pembelajaran. Refleksi (Reflection), refleksi dilakukan pada akhr pertemuan, misalnya dengan mencatat hal-hal yang telah dipelajari diskusi, maupun hasil karya. Autentik Asesmen (Authentic Assessment), melakukan (penilaian sebenarnya) dengan berbagai cara, baik dalam proses maupun hasil sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran. Dari langkah-langkah di atas diharapkan siswa dapat termotivasi dan semakin berminat bahkan menyukai mata pelajaran IPA karena dalam pembelajarannya penuh dengan variasi.
C. TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengungkap suatu pendekatan yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas V SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi pada mata pelajaran IPA.
2. Mengungkap suatu pendekatan yang dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa kelas V SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi pada mata pelajaran IPA.
E. MANFAAT
1. Bagi Siswa, penelitan ini diharapkan dapat memberikan pengalamn bagi siswa dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA, sehingga terbentuk lingkungan belajar yang lebih hidup dan bermakna.
2. Bagi Guru, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru, yakni dapat memberikan pengalaman dan wawasan bagi guru bahwa dalam pembelajaran, khususnya bagi siswa kelas rendah membutuhkan pendekatan pembelajaran yang dapat memberikan rasa nyaman dan rasa senang pada siswa, sehingga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa pada pembelajaran IPA.
D. Hipotesis Tindakan
Dengan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL), diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar pada mata pelajaran IPA siswa kelas V SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi tahun pelajaran 2009-2010.

02
Apr
10

Penelitian Tindakan Kelas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat saat ini, tantangan bagi guru justru semakin besar terutama menyongsong pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Perubahan ini tentunya menuntut guru untuk meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pribadi, kompetensi bidang ilmu dan kompetensi dalam hal pembelajaran. Kompetensi ini selanjutnya akan menempatkan guru pada sebuah paradigma baru dalam proses pembelajaran. Paradigma pembelajaran baru juga menuntut guru untuk memiliki kemampuan bidang studi yang memadai. Kemampuan ini memuat pemahaman akan karakteristik dan isi bahan ajar, mengusai konsepnya, mengenal metodologinya dan memahami konteks bahan yang diajarkan serta kaitannya dengan kebutuhan masyarakat, lingkungan dan dengan ilmu lain.
Tujuan mata pelajaran matematika agar peserta didik memiliki kemammpuan sebagai berikut: Memahami konsep, penalaran, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan, memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan; memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar pada saat ini matematika telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Dalam hal ini yang dimaksud matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Matematika tersebut merupakan mata pelajaran yang penting guna menumbuhkembangkan kemampuan dan membentuk pribadi siswa yang terpadu kepada perkembangan Iptek.
Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh siswa. Hal ini mengakibatkan matematika sebagai mata pelajaran yang ditakuti dan dijauhi oleh sebagian besar siswa. Siswa enggan mempelajari matematika sehingga pelajaran matematika terasa semakin sulit. Persepsi yang salah ini tentunya merupakan kendala yang cukup besar bagi pencapaian tujuan pendidikan mateamatika. Tugas guru sebagai ujung tombak pendidikan sangat besar dalam mengubah persepsi anak didik. Tugas gurulah untuk memberikan pengertian kepada anak didik bahwa matematika bukanlah sebuah tugas yang mudah, tetapi bukanlah suatu hal yang tidak mungkin.
Salah satu langkah dalam proses pembelajaran adalah mengkombinasikan metode yang dipilih dan tepat. Artinya guru melakukan suatu proses kegiatan belajar mengajar untuk mengubah persepsi anak adalah dengan cara memperkenalkan matematika sebagai sesuatu yang menarik. Pada umumnya siswa selalu tertarik terhadap hal-hal yang bersifat permainan, teka-teki, dan tebak-tebakan. Dengan cara menyajikan suatu permainan yang mengandung unsur matematika maupun dengan cara menyajikan pelajaran matematika dalam bentuk permainan, diharapkan dapat menarik minat dan menyenangkan bagi siswa.
Permainan matematika berbeda dengan matematika murni, yakni berupaya memperkenalkan keanehan-keanehan dan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh bilangan-bilangan. Keanehan dan keistimewaan tersebut akan merangsang minat siswa terhadap matematika sehingga secara sukarela dan tak langsung menimbulkan hasrat untuk mempelajari matematika. Permainan matematika ini banyak jenis dan ragamnya, dapat dipelajari dari berapa sumber buku, dan dapat diciptakan oleh guru maupun siswa secara bersama-sama. Permainan matematika adalah suatu permainan yang dipecahkan dan dikerjakan berdasarkan metode matematika.
Permainan matematika berupaya menjelaskan materi matematika dalam wujud permainan yang mudah dan menarik. Sambil bermain tak terasa siswa terlibat dalam suatu pemikiran matematika yang mengasyikkan, sedikit demi sedikit anggapan bahwa matematika adalah suatu pelajaran yang sulit akan hilang. Fungsi permainan matematika adalah sebagai salah satu alat untuk menarik perhatian anak didik terhadap matematika. Di samping itu berfungsi untuk mengubah persepsi siswa yang salah terhadap matematika. Dengan terlibat langsung permainan diharapkan siswa dapat memiliki anggapan bahwa matematika adalah mata pelajaran yang menyenangkan sehingga siswa memiliki sikap gemar belajar matematika. Guru harus mampu menetapkan dan mengkombinasikan metode pembelajaran yang tepat sesuai materi yang diajarkan sehingga menarik dan menyenangkan sekaligus siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, identifikasi masalahnya sebagai berikut:
1. Apakah matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan menakutkan bagi siswa kelas II SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi tahun pelajaran 2009-2010 ?
2. Apakah usaha-usaha yang dilakukan guru agar siswa kelas II SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi tahun pelajaran 2009-2010 mudah memahami materi yang diajarkan ?.
3. Bagaimana upaya yang dilakukan sekolah dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VI SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi tahun pelajaran 2009-2010 ?
4. Apakah melalui permainan dapat menarik minat dan meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas II SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi tahun pelajaran 2009-2010 ?

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah maka untuk memudahkan penelitian ini, permasalahan dibatasi pada; Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Melalui Permainan Teka-Teki Bilangan pada Siswa Kelas II SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi Kec. Jatinegara Jakarta Timur Tahun Pelajaran 2009-2010.
Dalam penelitian ini yang dimaksud permainan adalah salah satu teknik pembelajaran yang berfungsi untuk menarik minat dan melibatkan siswa dalam pemikiran matematika yang manegasyikkan. Selain itu bertujuan agar siswa gemar belajar matematika dan bukanlah mata pelajaran yang sulit menakutkan. Obyek penelitian adalah Siswa Kelas II SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi Tahun Pelajaran 2009-2010 dengan pertimbangan siswa mengalami kesulitan dalam operasi hitung perkalian dan pembagian dengan teknik menghitung loncat.

D. Perumusan Masalah
Dari identifikasi dan pembatasan masalah yang dikemukakan, maka perumusan masalah yang diajukan adalah “ Apakah melalui permaian dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas II SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi Tahun Pelajaran 2009-2010 ?”.

E. Manfaat Hasil Penelitian
1. Menjadi bahan masukan bagi pihak lembaga/sekolah yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan umumnya dan SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi khusunya.
2. Menjadi masukan bagi Kepala Sekolah, guru yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar, khususnya pada siswa kelas II SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi.
3. Menjadi bahan masukan bagi orang tua siswa bahwa peran serta bimbingan belajar di rumah sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar di sekolah
4. Untuk siswa kelas II khususnya diberikan permainan sebagai bagian dari upaya menarik minat sehingga memiliki sikap gemar belajar matematika.

F. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah pemberian teknik permainan matematika sebagai upaya meningkatkan prestasi hasil belajar siswa kelas II SDN Cipinang Besar Selatan 01 Pagi Kec. Jatinegara Jakarta Timur tahun pelajaran 2009-2010.